Pages

Ads 468x60px

Selasa, 02 Desember 2014

Gereja Katolik Indonesia Bersaksi

I. Pendahuluan

1.1 Latar belakang

Gereja katolik bersaksi adalah ciri khas karya misi gereja katolik dewasa ini terutama melalui lembaga pendidikan, kesehatan, dan karya sosial karitatif. Patut catat bahwa memang sejak abad ke-16 Gereja Katolik sudah berkiprah dalam karya misioner di bidang pendidikan, kesehatan, dan karya sosial karitatif. Namun ciri corak yang ditampilkan karya misioner gereja sekarang ini sedikit-banyaknya mulai berubah sesuai dengan tuntutan zaman. Kalau dulu, gereja menggencarkan karya misi untuk menjaring sebanyak mungkin orang dibaptis menjadi orang-orang katolik. Sekarang, gereja lebih banyak memberikan kesaksian tentang iman, harapan, dan cinta kasih Kristiani melalui lembaga pendidikan, kesehatan, dan karya sosiaf karitatif. Dengan begitu, jiwa dan mental kristiani seperti kebenaran, keadilan, kejujuran, dan perikemanusiaan mendalam dalam diri setiap orang.

Pemberian Diri

Bahwa status sosial atau jabatan sosial itu tampknya penting, itu tidak berarti banyak untuk bagaimana kita dikenang oleh orang lain. Karakter yang terwujud dalam tindakan kita adalah yang lebih menentukan.

Karakter itulah yang kita bawa sejak lahir dan diharapkan bisa dikembangkan seiring dengan kita tumbuh besar dalam masyarakat. Sementara semua status sosial yang kita kenal adalah sesuatu yang sangat lahiriah dan pelengkap bagi kehidupan kita. Artinya kita mengetahuinya dan menghasratinya setelah perlahan-lahan kita menjadi sadar dalam hidup bermasyarakat.

Senin, 01 Desember 2014

Konsep Materialis Historis menurut Karl Marx

I. Pengantar

“Materialis Historis” merupakan salah satu pandangan Karl Marx yang penting dan menarik dalam mengulas masyarakat dan sejarah manusia. Dalam pandangan ini, manusia hanya dapat dipahami selama ia ditempatkan dalam konteks sejarah. Manusia pada hakekatnya adalah insan bersejarah. Sejarah manusia tersebut terpatri dalam peristiwa-peristiwa masyarakat sehingga seyogyanya pada saat yang sama sejarah juga diletakan dalam keterkaitan dengan masyarakat.

Bersama Drijarkara Menyimak Kembali Pancasila sebagai Kepribadian Bangsa


“Garuda Pancasila, Akulah pendukungmu, Patriot proklamasi, Sedia berkorban untukmu
                          Pancasila dasar negara, Rakyat adil makmur sentosa, Pribadi bangsaku, Ayo maju maju, Ayo maju maju, Ayo maju maju, ”

(Garuda Pancasila - Sudharnoto)

A. Latar Belakang Pemilihan Tema

Siapa yang tidak mengenal lagu ini? Orang Indonesia mana yang tidak hafal isi Pancasila? Sejak dididik di Sekolah Dasar para siswa wajib menghafalkannya. Pancasila pun dibacakan seminggu sekali dalam upacara bendera di sekolah. Dalam suatu kurun waktu, yaitu Orde Baru di bawah pimpinan Presiden Soeharto, Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P-4) diwajibkan dimana-mana dalam bentuk seminar-seminar maupun pendadaran, mulai dari mahasiswa sampai dengan pegawai negeri. Tanggal 1 Juni dirayakan oleh Bangsa Indonesia sebagai hari kelahiran Pancasila. Kemudian kita melihat juga di pelbagai institusi terdapat atribut yang menandakan Garuda Pancasila atau juga ada kelompok yang memakai nama Pancasila.
Hal tersebut di satu sisi  barangkali tidaklah berlebihan mengingat Pancasila adalah dasar Negara Republik Indonesia. Namun di sisi lain orang dapat mempertanyakannya, 65 tahun telah berlalu sejak kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, sudahkah Negeri tercinta ini sampai kepada cita-cita luhur sebagaimana dirumuskan dalam Pancasila? Apakah kelima dasar tersebut telah sungguh menjadi sendi-sendi yang menggerakan roda kehidupan Bangsa Indonesia dalam seluruh dinamika berbangsa dan bernegara? Sejarah mencatat, di  pertengahan tahun 1998, ribuan mahasiswa dari aneka perguruan tinggi berkumpul memadati halaman Dewan Perwakilan Rakyat/ Majelis Permusyawaratan Rakyat di Senayan, Jakarta, melantunkan orasi-orasi dan mendendangkan lagu-lagu yang mengungkapkan kepedihan generasi muda atas situasi bangsa pada waktu itu. Salah satu (plesetan) lagu yang dinyanyikan saat itu adalah : “Pancasila dasarnya apa? Rakyat adil makmurnya kapan? Prihatin bangsaku. Kapan maju, maju? Kapan maju, maju? Kapan maju, maju?” Sedangkan dalam lirik Garuda Pancasila tadi, tentu ada maksud di balik kata pribadi bangsaku. Kata tersebut pun menarik hati kami ketika melihat bahwa pribadi kian tidak dilihat sebagai pribadi karena pelbagai tinta hitam yang mengotori kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pancasila sepertinya telah kehilangan wibawa. Orang sampai kepada suatu ”titik jenuh” apabila mendiskusikan soal Pancasila. Ideologi ini cenderung dipaksakan pada masa Orde Baru namun kemudian terpental pada awal reformasi dengan pembubaran Badan Pembinaan Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (BP7) dan penghentian penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4). Namun, di tengah munculnya gejala disintegrasi bangsa, konflik horizontal, radikalisme agama, dan terorisme, terasa lagi kebutuhan akan sebuah ideologi yang dapat mempersatukan bangsa serta diterima oleh semua golongan, agama, dan etnis.

Bagaimanakah Abraham Menjadi Prototipe Monoteisme Islam?

1. Pengantar: Monoteisme Islam

Paham paling ultim dalam pandangan Islam adalah monoteisme. Hal ini berarti agama Islam hanya mengakui adanya satu Allah.  Atas dasar itu orang yang beragama Islam ialah pribadi yang tulus yang berserah kepada  Allah yang satu. Pengakuan terhadap pewahyuan Allah yang tunggal tersebut dikatakan demikian: “Kami percaya kepada Allah yang menyatakan diri-Nya kepada kami, kepada Abraham, Ishmael, Ishak, Yakub dan suku-suku, serta kepada Musa, Yesus dan para nabi yang datang dari Allah. Kami tidak membeda-bedakan mereka dan kami berserah kepada-Nya.” Teks ini merupakan instruksi Muhammad dan komunitasnya untuk mengakui pesan-pesan Allah yang disampaikan oleh para nabi terdahulu tanpa membeda-bedakannya, sebab apa yang disampaikan oleh para nabi tersebut berasal dari sumber yang sama yakni Allah.

 

simple text

Gregorius Afioma

Sample Text

Sample Text