Pages

Ads 468x60px

Tampilkan postingan dengan label Ilmiah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmiah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Desember 2014

Gereja Katolik Indonesia Bersaksi

I. Pendahuluan

1.1 Latar belakang

Gereja katolik bersaksi adalah ciri khas karya misi gereja katolik dewasa ini terutama melalui lembaga pendidikan, kesehatan, dan karya sosial karitatif. Patut catat bahwa memang sejak abad ke-16 Gereja Katolik sudah berkiprah dalam karya misioner di bidang pendidikan, kesehatan, dan karya sosial karitatif. Namun ciri corak yang ditampilkan karya misioner gereja sekarang ini sedikit-banyaknya mulai berubah sesuai dengan tuntutan zaman. Kalau dulu, gereja menggencarkan karya misi untuk menjaring sebanyak mungkin orang dibaptis menjadi orang-orang katolik. Sekarang, gereja lebih banyak memberikan kesaksian tentang iman, harapan, dan cinta kasih Kristiani melalui lembaga pendidikan, kesehatan, dan karya sosiaf karitatif. Dengan begitu, jiwa dan mental kristiani seperti kebenaran, keadilan, kejujuran, dan perikemanusiaan mendalam dalam diri setiap orang.

Senin, 01 Desember 2014

Bersama Drijarkara Menyimak Kembali Pancasila sebagai Kepribadian Bangsa


“Garuda Pancasila, Akulah pendukungmu, Patriot proklamasi, Sedia berkorban untukmu
                          Pancasila dasar negara, Rakyat adil makmur sentosa, Pribadi bangsaku, Ayo maju maju, Ayo maju maju, Ayo maju maju, ”

(Garuda Pancasila - Sudharnoto)

A. Latar Belakang Pemilihan Tema

Siapa yang tidak mengenal lagu ini? Orang Indonesia mana yang tidak hafal isi Pancasila? Sejak dididik di Sekolah Dasar para siswa wajib menghafalkannya. Pancasila pun dibacakan seminggu sekali dalam upacara bendera di sekolah. Dalam suatu kurun waktu, yaitu Orde Baru di bawah pimpinan Presiden Soeharto, Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P-4) diwajibkan dimana-mana dalam bentuk seminar-seminar maupun pendadaran, mulai dari mahasiswa sampai dengan pegawai negeri. Tanggal 1 Juni dirayakan oleh Bangsa Indonesia sebagai hari kelahiran Pancasila. Kemudian kita melihat juga di pelbagai institusi terdapat atribut yang menandakan Garuda Pancasila atau juga ada kelompok yang memakai nama Pancasila.
Hal tersebut di satu sisi  barangkali tidaklah berlebihan mengingat Pancasila adalah dasar Negara Republik Indonesia. Namun di sisi lain orang dapat mempertanyakannya, 65 tahun telah berlalu sejak kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, sudahkah Negeri tercinta ini sampai kepada cita-cita luhur sebagaimana dirumuskan dalam Pancasila? Apakah kelima dasar tersebut telah sungguh menjadi sendi-sendi yang menggerakan roda kehidupan Bangsa Indonesia dalam seluruh dinamika berbangsa dan bernegara? Sejarah mencatat, di  pertengahan tahun 1998, ribuan mahasiswa dari aneka perguruan tinggi berkumpul memadati halaman Dewan Perwakilan Rakyat/ Majelis Permusyawaratan Rakyat di Senayan, Jakarta, melantunkan orasi-orasi dan mendendangkan lagu-lagu yang mengungkapkan kepedihan generasi muda atas situasi bangsa pada waktu itu. Salah satu (plesetan) lagu yang dinyanyikan saat itu adalah : “Pancasila dasarnya apa? Rakyat adil makmurnya kapan? Prihatin bangsaku. Kapan maju, maju? Kapan maju, maju? Kapan maju, maju?” Sedangkan dalam lirik Garuda Pancasila tadi, tentu ada maksud di balik kata pribadi bangsaku. Kata tersebut pun menarik hati kami ketika melihat bahwa pribadi kian tidak dilihat sebagai pribadi karena pelbagai tinta hitam yang mengotori kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pancasila sepertinya telah kehilangan wibawa. Orang sampai kepada suatu ”titik jenuh” apabila mendiskusikan soal Pancasila. Ideologi ini cenderung dipaksakan pada masa Orde Baru namun kemudian terpental pada awal reformasi dengan pembubaran Badan Pembinaan Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (BP7) dan penghentian penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4). Namun, di tengah munculnya gejala disintegrasi bangsa, konflik horizontal, radikalisme agama, dan terorisme, terasa lagi kebutuhan akan sebuah ideologi yang dapat mempersatukan bangsa serta diterima oleh semua golongan, agama, dan etnis.

Bagaimanakah Abraham Menjadi Prototipe Monoteisme Islam?

1. Pengantar: Monoteisme Islam

Paham paling ultim dalam pandangan Islam adalah monoteisme. Hal ini berarti agama Islam hanya mengakui adanya satu Allah.  Atas dasar itu orang yang beragama Islam ialah pribadi yang tulus yang berserah kepada  Allah yang satu. Pengakuan terhadap pewahyuan Allah yang tunggal tersebut dikatakan demikian: “Kami percaya kepada Allah yang menyatakan diri-Nya kepada kami, kepada Abraham, Ishmael, Ishak, Yakub dan suku-suku, serta kepada Musa, Yesus dan para nabi yang datang dari Allah. Kami tidak membeda-bedakan mereka dan kami berserah kepada-Nya.” Teks ini merupakan instruksi Muhammad dan komunitasnya untuk mengakui pesan-pesan Allah yang disampaikan oleh para nabi terdahulu tanpa membeda-bedakannya, sebab apa yang disampaikan oleh para nabi tersebut berasal dari sumber yang sama yakni Allah.

Minggu, 30 November 2014

Kebebasan (negatif dan positif)


1. Pengantar

Kebebasan tidak merupakan suatu istilah netral. Kebebasan dalam perkembangan filsafat politik berkembang ke dalam dua arah penafsiran, yakni kebebasan positif dan kebebasan negatif. Kebebasan positif berkenan dengan kebebasan yang terikat dalam kelompok sedangkan kebebasan negatif melampaui ikatan kelompok.

Untuk memahami lebih dalam perbedaan tersebut, pertanyaan yang layak diajukan pada pembukaan ini adalah siapakah dan bagaimanakah subjek kebebasan mengembangkan kebebasannya dalam masing-masing cara pandang tersebut?

Jumat, 14 Maret 2014

Relasi Agama, Kekuasaan, dan Tatanan Aturan dalam Dunia Modern

1.   Pengantar


Abad modern yang ditandai dengan dominasi inovasi dan kompetisi pemanfaatan teknologi canggih  tidak begitu saja menyembunyikan tampilnya berbagai fakta keagamaan  dalam kehidupan sosial. Hal itu tampak jelas dalam kebangkitan fundametalisme Islam di Timur Tengah, menguatkannya pengaruh politik dari gerakan Katolik liberal dan evangilisme di Amerika Latin, dan menguatkanya isu Gereja-Negara di Amerika Serikat, serta Britania yang tetap memberikan contoh  relasi agama terhadap kehidupan politik dan ekonomi di zaman modern ini[1].


Hal itu menunjukkan bahwa fakta-fakta keagamaan masih perlu diperhatikan secara serius ketika menginterpretasi perkembangan tradisi dan modernitas. Membahas isu-isu penting dalam kehidupan sosial pada abad ini tidak bisa tidak menempatkan agama di dalamnya. Dengan kata lain, agama menjadi prasyarat penting menggumuli persoalan sosial, politik, ekonomi, dan budaya pada zaman sekarang.

Akan tetapi, cara menginterprestasi agama, tradisi, dan modernitas pada abad ini tidak lari jauh dari perspektif globalisasi. Globalisasi tidak lain adalah ciri khas abad modern ini. Globalisasi memperlihatkan wajah dunia yang mampat. Dunia tidak lagi luas, tetapi semakin sempit dan menjadi “satu” (single place).

Dalam konteks globalisasi itulah, tulisan ini akan membahas relasi antara agama, kekuasaan, dan hukum dalam dunia modern. Untuk itu, yang menjadi masalah pokok tulisan ini adalah: bagaimanakah relasi antara agama, kekuasaan, dan hukum dalam dunia modern? Terkesan begitu kuat bahwa ketiga faktor tersebut harus selalu terjalin dalam sebuah relasi permanen demi kepentingan perkembangan dunia yang lebih sehat. Kealpaan suatu unsur dapat berdampak negatif terhadap globalisasi yang menjadi tanda dari abad modern.

Siapakah Abraham dalam Pandangan Quran?

1.        Pengantar: Monoteisme Islam
Paham paling ultim dalam pandangan Islam adalah monoteisme. Hal ini berarti agama Islam hanya mengakui adanya satu Allah[1].  Atas dasar itu orang yang beragama Islam ialah pribadi yang tulus yang berserah kepada  Allah yang satu. Pengakuan terhadap pewahyuan Allah yang tunggal tersebut dikatakan demikian: “Kami percaya kepada Allah yang menyatakan diri-Nya kepada kami, kepada Abraham, Ishmael, Ishak, Yakub dan suku-suku, serta kepada Musa, Yesus dan para nabi yang datang dari Allah. Kami tidak membeda-bedakan mereka dan kami berserah kepada-Nya.” Teks ini merupakan instruksi Muhammad dan komunitasnya untuk mengakui pesan-pesan Allah yang disampaikan oleh para nabi terdahulu tanpa membeda-bedakannya, sebab apa yang disampaikan oleh para nabi tersebut berasal dari sumber yang sama yakni Allah.

Heidegger dan Masalah Onto-theologi


1. Pengantar
            Heidegger adalah salah seorang filsuf yang mengajak kita untuk selalu berpikir tentang prinsip-prinsip dasar atau kondisi-kondisi dasariah (nature) dari segala sesuatu. Maka dari itu, pertanyaan yang selalu muncul, “Apa itu?”, Apa ini?”, dan lain sebagainya. Pada intinya, pertanyaan-pertanyaan seperti itu merangsang kita untuk selalu berpikir dan bergelut dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut.

            Sehubungan dengan itu, John  Peacocke dalam “ Heidegger and The Problem of Onto-Theologis” berusaha menelaah lebih dalam pemikiran Heidegger.  Dalam tulisan ini, diperlihatkan secara spesifik keberatan Heidegger terhadap metafisika, teologi, dan filsafat Barat di satu pihak, dan pemikiran John Peacocke tentang agama (religion) di lain pihak. John Peacocke secara khusus dalam tulisannya mengangkat persoalan, “Apakah yang disebut sebagai agama (religion)?” Persoalan ini jarang dibicarakan oleh  Heidegger sekaligus memiliki kedekatan dengan persoalan yang diusung oleh Heidegger, yakni “Apakah yang disebut sebagai teologi?”.


 

simple text

Gregorius Afioma

Sample Text

Sample Text