Pages

Ads 468x60px

Tampilkan postingan dengan label Essay. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Essay. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Februari 2015

Diktator yang Cakap

 Sekarang menjelang setiap pilkada, pertanyaan paling relevan adalah: siapakah “diktator” baru yang paling cakap untuk dipilih?

Sebutan diktator bukan tanpa alasan.  Kebijakan otonomi Daerah melalui pemberlakuan Undang-Undang nomor 22 tahun 1999 telah berkontribusi dalam melahirkan para pemimpin lokal yang bertindak ala diktator. Raja-raja baru tumbuh bak jamur. Koruptor di daerah semakin merajalela. Tentu saja, kenyataan itu tidak terlepas dari kekuasaan yang semakin besar di tangan elite lokal melalui penerapan kebijakan otonomi tersebut.

Selasa, 17 Februari 2015

Island-Selling via Internet in West Manggarai Regency




The good camera's capture at Labuan Bajo
Punggu Island, one of beautiful islands around Komodo Island, West Manggarai regency, East nusa tenggara is on for sale at around US$ 11 billions .

The offer have been advertised by skyproperty. org since 22 November 2014. In the ads  it is mentioned that Komodo Island can be reached in 20 minutes from Punggu island and 314, 84 kilometers away from Bali. 

Rabu, 11 Februari 2015

Should Flores be a Province?



The militant effort of the committee planning the formation of new province in Flores has triggered critic and controversy.
A wonderful view in Labuan Bajo

The group led by Ngada regent Marianus Sae insistently argues that the forming of new autonomous province, separating Flores from the former province centered in Kupang would easy the administrative affairs. The realization of this proposal later on would stimulate the healthy economic growth and gain much more benefits for investors and societies.

Would social problems that have been long linked to Flores like poverty, corruption, defected bureaucracy, human trafficking, and under nutrition rate be lessened by this new plan?

Selasa, 25 November 2014

Tes keperawanan?

Jika didengar teman-teman diskusi saya di Saint Louis University berita tentang tes keperawanan polwan di Indonesia yang hangat akhir-akhir ini, sudah pasti mereka akan kaget dan terperangah.
Dalam sebuah diskusi yang cukup hangat tentang wanita, mereka sudah mendefinisikan keperawanan dalam cara pandang yang baru.

Jokowi: Sosok Kontroversial?

Keputusan menaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) membuat Jokowi seketika menjadi sosok kontroversial.

Dikenal dekat dengan rakyat jelata, bahkan baru-baru ini ia berani memaafkan seorang yang menghinanya melalui media sosial, Jokowi seolah berubah drastis menjadi seorang presiden yang tak peduli dengan jeritan rakyat kecil yang merasakan efek domino dari kenaikan harga BBM.

Jumat, 07 November 2014

Tantangan Awal Jokowi

Majalah TIME Edisi 27 Oktober mendatang mengetengahkan suatu tantangan kepada rakyat Indonesia dengan memasang foto close-up Jokowi, sebagai sampul edisi internasional yang berjudul “A New Hope”.

Sebuah pertanyaan seketika menggugat kita di tengah euforia pasca pelantikan presiden ketujuh Republik Indonesia ini: Mampukah Jokowi menjadi pembawa harapan baru?

Untuk mengukur seberapa besar potensi Jokowi membawa pembaharuan pada masa mendatang, kita dapat meminjam teori politik dari dua pemikir Yunani Kuno yakni Plato dan Aristoteles.

Minggu, 02 November 2014

Kedewasaan Iman

Sebuah petisi tentang “skandal” uskup Ruteng, Mgr. Hubert Leteng, Pr baru-baru ini  cukup mengagetkan. Pihak keuskupan mengklarifikasi bahwa informasi itu tidak benar adanya. Lantas apakah persoalan sudah selesai?

            Saya sendiri tetap menangkap suatu kejanggalan tatkala reaksi beberapa orang menjadi tak wajar. Dikatakan tidak wajar apabila hanya sekadar fokus pada soal klarifikasi fakta dan merasa terganggu kalau isu ini terus dibahas karena seolah-olah dapat mengancam iman umat beriman.

Minggu, 28 September 2014

Front Pembela Indonesia

Siapa yang tak mengenal kelompok Front Pembela Islam (FPI)?

Belakangan ini saya merasa semakin mudah mendefinisikan identitas kelompok garis keras yang masih eksis ini di tengah sikap pemerintah yang permisif di zaman reformasi dan antipati masyarakat yang terus meningkat.

Minggu, 21 September 2014

Tatanan Nilai

Sedemokratis apapun sebuah sistem jika para politisi tak dibekali pendidikan nilai  dan karakter yang kuat, keruntuhan sebuah sistem menjadi ancaman yang nyata.

Kamis, 11 September 2014

Sinetron Politik


Wajah politik Indonesia kini mirip dengan sinetron di TV. Setelah dikalahkan oleh putusan MK, layaknya berperan seperti tokoh antagonis, koalisi Merah Putih memperpanjang episode konflik dengan cara-cara yang terkesan mengada-ada 


Rakyat merasa jijik dan bosan, sekaligus dibuat tak berdaya. Melihat komposisi yang miliki di DPR pusat, mereka seperti di atas angin. Keputusan bahwa pilkada ditentukan oleh DPRD bisa diambil semaunya. Di sinilah lonceng kematian demokrasi seakan berdentang.

Selasa, 09 September 2014

Kebebasan Hati

Bagaimana mencapai ketenangan batin atau kebebasan hati?

Ini pertanyaan yang paling saya butuhkan jawabannya dan “menganggu” saya sekian lama. Kebutuhan itu tentu saja datang setelah saya merasa kian rentan terhadap rasa marah, jengkel, frustrasi, murung dan kurang bersemangat.

Bertolak dari suatu pengalaman, saya lalu merasa perlu untuk menciptakan suatu tatanan emosi dalam diri saya. Hal itu diperlukan agar emosi kita lebih efektif, efisien, dan tepat guna.

Minggu, 31 Agustus 2014

Hukuman melalui Media Sosial

Tiap kali membaca berita elite pemerintah yang korupsi di media online, saya tersulut amarah dan tergoda untuk melontarkan komentar pedas. Setelah menengok komentar-komentar sebelumnya, saya menemukan reaksi serupa. Caci-maki, dan umpatan sudah tertulis di sana.

            Saya membayangkan, seorang pejabat publik, keluarga, atau koleganya yang membaca komentar-komentar tersebut barangkali akan merasa sangat terkejut. Mereka bisa sakit hati. Jika tak kuat batin, anak dari seorang pejabat bisa mengurung diri dari pergaulan sosialnya. Apalagi kalau dari segi hukum belum terbukti, semua komentar itu rasanya menyakitkan dan berlebihan.

Rabu, 30 Juli 2014

Jeritan Korban Tambang!

Kasus pertambangan di Manggarai  semakin ramai dan intens dibicarakan beberapa tahun terakhir. Pembicaraan ini seolah tak menemui ujungnya saat elite lokal terus-menerus menjadi intrumen bagi pengusaha tambang dan rakyat di sekitar tambang  dibiarkan menggeliat dan meronta-ronta tak karuan dalam jeratan kemiskinan. 

Ibarat menu harian yang monoton, bagi saya kasus pertambangan ini memuakkan dan membosankan. Bukan karena beritanya yang semakin menjadi-jadi dan intens, tetapi karena saya menyaksikkan sendiri sejak kecil bentuk-bentuk ketidakadilan dari kehadiran pertambangan sebagai konsekuensi tinggal dalam lokasi lingkar tambang dan terlahir dari golongan masyarakat kelas bawah. 

Minggu, 27 Juli 2014

Membangun Karakter

Pembentukan karakter adalah paling utama dalam pendidikan daripada pengembangan pengetahuan itu sendiri. Sebab karakter yang kokoh dan kuat dengan sendirinya mampu melahirkan dan mengembangkan pengetahuan. Sebaliknya mengukur perolehan pengetahuan melalui hasil ujian semata adalah problematis.
Usai ujian Skripsi bersama Prof. Magnis and Prof. Mardi

Saya menyadari hal itu setelah lulus dari Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta pada tahun 2013 yang lalu. Meski pemikiran beberapa filsuf saya lupakan, namun ada yang tertinggal dalam diri saya, yakni kebiasaan membaca.

Rabu, 18 Juni 2014

Pilih dengan Hati Nurani



           Pilihan politik itu adalah persoalan hati nurani, bukan kepentingan.  Pilihan politik atas dasar hati nurani akan menenun cita-cita bersama. Sebaliknya pilihan politik atas dasar kepentingan akan berakhir dengan kehancuran.

Saya memahami pentingnya politik berhati nurani itu setelah membaca perjuangan umat Kristen di Timur Tengah dan rakyat Mesir pada umumnya selama gejolak revolusi kekuasaan di Arab, Syria, dan Mesir sebagaimana yang diberitakan dalam Majalah Time edisi 21 April 2014 yang berjudul “Unholy Choices”. Kiranya ini penting bagi pertimbangan politik kita pada pemilu presiden nanti.

Selasa, 08 April 2014

Indahnya Berdialog !

Suara lembut yang terdengar ketika memasuki rumah berlantai dua berada dekat gerbang utama Saint Louis University, Baguio City menjadi pertanda bagi kami. Suara itu tidak asing lagi. Begitu pun lagu “Say Something” yang dinyanyikan itu.
Ahmad dan Peng sedang berkolaborasi dalam presentasi hahah


“Itu suaranya John.” tebak Peng, teman seperjalanan saya hari itu. Pria berkaca mata, berbadan mungil, dan kulit kecoklatan itu menyendengkan lagi telinganya. Pria yang dulunya kupikir orang India,namun ternyata berasal dari Myanmar ingin memastikan lagi suara itu.

Kami pun kemudian mengedap masuk ke gerbang rumah itu. Berlangkah ragu-ragu. Dan ternyata dugaan kami benar.

“Mana Ahmad?” tanya kami ketika melihat John, Apeng, dan Emen.

Rabu, 26 Maret 2014

Melihat Masa Depan!



Ibu yang berusia separuh baya itu datang dari arah dapur, berlangkah dengan amat hati-hati dalam ruang tamu yang agak gelap sore itu—tanpa diterangi lampu—yang membawa dua gelas kopi untuk kami berdua, saya dan rikard.

“Frater, sebentar malam akan ramai.” ujarnya sambil tersenyum ramah setelah menyilakan kami berdua untuk minum. Saya hampir tidak bisa menyembunyikan raut wajah heran. Ketika saya menoleh ke Rikard, ternyata dia sudah melihat ke arah saya, tersenyum lebar.

Minggu, 09 Maret 2014

Menjadi caleg di tengah persepsi buruk tentang dunia politik

05/03/2014

Menjelang pemilihan legislatif 2009, dimana saat itu, saya berada di Makassar, cukup banyak umat Katolik memilih menjadi caleg.

“Saya akan maju sebagai salah satu calon agar kepentingan kita sebagai kelompok minoritas dapat disuarakan,” demikian kata seorang ibu kala itu yang memutuskan menjadi caleg.

Bagi para caleg saat itu, sosialisasi kepada para pemilih lebih mudah, berhubung ada kegiatan doa kelompok setiap Minggu di wilayah paroki, yakni setiap hari Kamis. Mereka pun menjadikan kesempatan itu untuk menyampaikan visi-misi. Jadi, tidak saja mengandalkan poster, baliho dan kartu nama.

Belajar dari Hugo Chavez dan Paus Fransiskus

18/03/2013 Belajar dari Hugo Chavez dan Paus Fransiskus thumbnail

Dua tokoh dari Amerika Latin menjadi perhatian dunia beberapa pekan terakhir: Presiden Venezuela Hugo Chavez yang meninggal pada Selasa (5/3) dan Uskup Agung Buenos Aires, Argentina, Jorge Mario Kardinal Bergoglio yang terpilih menjadi paus ke-266 pada Rabu (13/3), dengan nama baru Paus Fransiskus.

Bukan sekadar Beragama Katolik

Dalam salah satu artikel berjudul “Paus Fransiskus: Saya Percaya Tuhan, tetapi Bukan Tuhan Katolik”, yang dimuat Kompas.com, Selasa (8/10), terdapat kutipan pernyataan Paus: “Saya percaya akan Tuhan, tetapi bukan (kepada) Tuhan Katolik. Tuhan bukan Katolik. Tuhan adalah universal dan kita adalah umat Katolik karena cara kita memuja Dia.”

 

simple text

Gregorius Afioma

Sample Text

Sample Text